Rangkuman Materi Sejarah Kebangkitan Nasional Tahun 1908

Kebangkitan nasional Indonesia pada tahun 1908 tidak lepas dari sejarah penjajahan Indonesia, khususnya sejarah penjajahan Belanda. Politik etis yang kemudian diterapkan Belanda di Indonesia kemungkinan besar menjadi penyebab munculnya kelompok intelektual yang menjadi motor penggerak kebangkitan nasional di Indonesia.

Rangkuman Materi Sejarah Kebangkitan Nasional Tahun 1908

Situasi dan Kondisi Indonesia Sebelum Kebangkitan Nasional 1908

Keberadaan kekuasaan Portugis di Malaka (1511). Kedatangan Belanda pada abad ke-16 menimbulkan berbagai perlawanan di Indonesia, seperti perlawanan Sultan Hasanuddin di Kerajaan Mataram (1613-1645), perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten (1667), dan lain-lain. Pada tahun 1870, Belanda menerbitkan undang-undang pertanian. Dampaknya adalah eksploitasi besar-besaran terhadap produk pertanian Indonesia. 
Pada masa sebelum berlakunya Undang-undang Pertanian, eksploitasi hanya terbatas pada tanaman pertanian dan perkebunan seperti tebu, kopi, dan lain-lain. Namun setelah disahkannya UU Pertanian, eksploitasi mulai merambah ke sektor pertambangan, seperti minyak bumi, timah, batu bara, dan lainnya. Hasil pertanian dalam negeri nusantara dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan penjajah dan negara asing yang menanamkan modalnya di nusantara. Rakyat nusantara menjadi abdi dan bawahan para penjajah. Rakyat nusantara berjuang bertahan dari derita kolonialisme dan kemiskinan di tengah kekayaan alam yang dimilikinya.

Trilogi Van Deventer

Penderitaan bangsa Indonesia rupanya menarik perhatian beberapa kaum humanis (pengamat kemanusiaan) di Belanda. Mereka kemudian merekomendasikan politik etis bagi rakyat Indonesia sebagai balas budi atas eksploitasi penduduk asli. Pakar hukum Belanda Conrad Theodore Van Deventer (1857-1915) kemudian membuat trilogi tentang irigasi, emigrasi dan pendidikan. Trilogi ini dikenal dengan nama Trilogi Van Deventer. Van Deventer tinggal di Indonesia pada tahun 1880 hingga 1897.

Trilogi Van Deventer khususnya di bidang pendidikan terbukti bermanfaat bagi bangsa Indonesia dan berperan sangat penting dalam mengubah arah perjuangan anti-kolonial. Dari program pelatihan tersebut lahirlah kelompok baru, yaitu golongan intelektual di Nusantara. Pada abad ke-20, golongan intelektual ini menjadi kekuatan pendorong perjuangan amanat penderitaan rakyat yang dibatasi oleh penjajah. Dengan munculnya tokoh-tokoh intelektual, penderitaan rakyat yang sebelumnya terekspresikan dalam perlawanan regional melalui kekerasan bersenjata, kemudian menjelma menjadi gerakan kerakyatan nasional dengan menggunakan organisasi modern.

Berdirinya Budi Utomo

Kebangkitan nasional Indonesia merupakan hasil dari politik etis yang dilakukan Belanda. Pada pemaparan sebelumnya, kita mengetahui bahwa politik etis di bidang pendidikan justru menciptakan golongan intelektual di Indonesia. Golongan intelektual itulah yang kemudian mengubah strategi perlawanannya terhadap Belanda.
Gagasan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan telah didorong sejak awal oleh majalah Bintang Hindia. Majalah ini pertama kali terbit di Belanda pada tahun 1902. Majalah Bintang India dijalankan oleh seorang pria Minangkabau bernama Abdul Rivai. Beliau lulus dari sekolah kedokteran di Batavia (sekarang Jakarta). Setelah tahun 1900, sekolah kedokteran berganti nama menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Bintang Hindia tersebar di Indonesia pada masa perkembangannya dan sangat banyak dibaca oleh kalangan elit Indonesia. Majalah ini berhenti terbit pada tahun 1906.

Munculnya organisasi-organisasi modern di Indonesia tidak lepas dari peran penting Wahid Sudirohusodo. Ia lulus dari sekolah kedokteran dan bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899. Pada tahun 1901 ia menjadi editor Retnodhoemilah yang dicetak dalam bahasa Jawa dan Melayu. Wahidin Soedirohusodo berusaha mengumpulkan beasiswa untuk pendidikan golongan priyayi.
Pada tahun 1907 Wahidin Sudirohusodo mengunjungi STOVIA. Ia mendapat sambutan yang sangat antusias di STOVIA. Akhirnya diadakanlah pertemuan pada tanggal 20 Mei 1908, dari sinilah lahirlah organisasi Budi Utomo. Pertemuan tersebut dihadiri oleh mahasiswa perwakilan dari STOVIA, OSVIA, sekolah guru, sekolah pertanian dan sekolah kedokteran hewan. Cabang-cabang Budi Utomo juga didirikan di sekolah-sekolah tersebut pada waktu itu.

Tokoh pendiri Budi Utomo yaitu dr. Soetomo dan para Mahasiswa STOVIA yaitu M. Soeradji, M. Muhammad Saleh, M. Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka.

Budi Utomo pada awalnya bukanlah organisasi politik, melainkan organisasi sosial, ekonomi, dan budaya. Namun, Budi Utomo akhirnya menjadi pionir gerakan kemerdekaan Indonesia.

Kongres pertama berlangsung pada tanggal 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Saat itu, Budi Utomo memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Jogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Dalam kongres pertama ini, Radeni Adipati Tirtokoesoemo, seorang bangsawan, mengangkat Budi Utamo sebagai presiden pertama. Sejak itu banyak anggota baru dari kalangan bangsawan dan penguasa kolonial yang bergabung dengan organisasi Budi Utomo. Hal ini justru menyebabkan anggota muda keluar dari organisasi.

Berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 disusul dengan berdirinya Indische Partij pada tahun 1912, partai politik pertama di Indonesia. Pada tahun yang sama, Sarekat Dagang Islam didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Jogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putra di Magelang.
Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang menginisiasi organisasi nasional lainnya. Oleh karena itu hari lahir Budi Utomo yaitu tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Makna Kebangkitan Nasional 1908 dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia

Masa kebangkitan nasional di Indonesia ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Masa kebangkitan nasional merupakan masa dimana bangsa Indonesia bangkit kesadaran nasionalnya. Perlawanan terhadap penjajah Belanda tidak bisa dilakukan secara individual dan bersifat kedaerahan, melainkan harus bersatu. Benih persatuan lahir pada masa kebangkitan pada tahun 1908. Karena adanya perlawanan bersifat kedaerahan, mudah bagi rakyat Indonesia untuk diadu domba. Belanda menerapkan politik adu domba yang disebut devide et impera.

Organisasi Budi Utomo memutuskan bahwa bahasa resmi Budi Utomo adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu inilah yang kemudian menjadi pendahulu bahasa Indonesia. Di sini kita melihat secara linguistik benih-benih persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme). Meski organisasi Budi Utomo kental dengan budaya Jawa, namun bahasa resmi organisasinya bukan bahasa Jawa melainkan bahasa Melayu. Benih-benih persatuan bangsa muncul pada masa kebangkitan nasional. Hal itu terlihat saat Budi Utomo secara resmi mengumumkan bahwa kekhawatirannya mencakup masyarakat Pulau Jawa dan Madura. Dengan demikian mencerminkan adanya kesatuan administratif antara kedua pulau tersebut dan juga mencakup suku Sunda dan Madura.

Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang menginisiasi organisasi nasional lainnya seperti Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah dan lainnya. Terbentuknya berbagai organisasi kebangsaan tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh model perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, kemudian digunakan organisasi modern dan metode diplomasi. Lahirnya Kebangkitan Nasional pada tahun 1908 mengubah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Kebangkitan nasional tahun 1908 dapat dikatakan merupakan tonggak revolusioner perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia melawan penjajah.

Perbedaan Perjuangan Sebelum dan Sesudah Kebangkitan Nasional 1908

• Perjuangan Sebelum 1908
  1. Bersifat lokal atau kedaerahan.
  2. Sangat bergantung pada pemimpin daerah seperti raja, sultan, dan pangeran. Jika pemimpin daerahnya meninggal, perjuangan akan berakhir.
  3. Penggunaan kekuatan atau perlawanan bersenjata.

• Perjuangan Sesudah 1908
  1. Tak lagi bersifat lokal, kesadaran nasional mulai tumbuh.
  2. Tidak lagi bergantung pada pemimpin daerah. Perlawanan terus berlanjut bahkan ketika seorang pemimpin daerahnya meninggal.
  3. Penggunaan organisasi modern.

Masa kebangkitan nasional tahun 1908 merupakan tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda Tahun 1928 merupakan tonggak penguatan perjuangan rakyat karena pada saat itu bangsa Indonesia meneguhkan eksistensinya sebagai bangsa Indonesia yang satu. Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan suatu terobosan perjuangan bangsa Indonesia.

Sikap Positif Terhadap Makna Kebangkitan Nasional 1908

  1. Selalu bersyukur atas kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.
  2. Menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan pada lingkungan sekitar kita yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar.
  3. Ubahlah perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kita seperti perbedaan agama, keyakinan, budaya dan suku menjadi faktor-faktor yang memperkokoh jalinan persatuan dan kesatuan.
  4. Meneladani perjuangan para pahlawan kita dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu disiplin, kerja keras, pantang menyerah dan kerjasama.