Rangkuman Materi Sejarah Peristiwa Sumpah Pemuda 1928

Lahirnya Kebangkitan Nasional pada tahun 1908 disebabkan oleh politik etis yang diterapkan Belanda di Indonesia. Politik etis melahirkan kelompok intelektual dan menjadi penggerak berdirinya Budi Utomo. Disusul dengan berdirinya organisasi lain seperti Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah dan lainnya. Organisasi ini tidak lagi menggunakan perlawanan bersenjata bersifat kedaerahan, tetapi menggunakan organisasi modern dan kesadaran nasional.

Rangkuman Materi Sejarah Peristiwa Sumpah Pemuda 1928

Pada tahun 1926, Persatuan Pelajar Indonesia (PPPI) didirikan di Jakarta. PPPI mengimbau organisasi atau perkumpulan pemuda Indonesia untuk menggalang persatuan dan persatuan demi terciptanya Indonesia yang merdeka. PPPI mengundang organisasi kepemudaan lainnya untuk menyelenggarakan kongres pemuda. Akhirnya diadakanlah pertemuan yang disebut Kongres Pemuda. Kongres ini berlangsung sebanyak dua kali, yaitu Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.

Kongres Pemuda I

Kongres Pemuda I diadakan tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jalan Budi Utomo, Jakarta (sekarang Gedung Kimia Farma). M. Tabrani sebagai Ketua Kongres Pemuda I. Tujuan kongres ini adalah mendorong semangat kerjasama antar organisasi kepemudaan Indonesia untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa serta membentuk organisasi kepemudaan nasional.

Hasil Keputusan Kongres Pemuda I

Kongres pemuda yang pertama tidak berhasil menciptakan organisasi pemuda bersifat nasional.
Namun dalam kongres ini diambil keputusan-keputusan penting yang menjadi dasar pembentukan organisasi nasional.
Keputusannya adalah sebagai berikut.
Indonesia merdeka harus menjadi dambaan seluruh generasi muda Indonesia.
Semua organisasi kepemudaan hendaknya berjuang untuk satu organisasi nasional.

Kongres Pemuda II

Kongres Pemuda II dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (sekarang Gedung Museum Sumpah Pemuda). Kongres Pemuda II berlangsung dalam suasana penuh semangat persatuan dan kesatuan. Lagu Kebangsaan Indonesia yang diciptakan oleh W.R. dimainkan pertama kali pada acara Sumpah Pemuda tersebut. Lagu Indonesia Raya pertama kali dikenalkan pada tahun 1928 di media cetak surat kabar Sin Po dengan teks yang menegaskan lagu tersebut sebagai lagu kebangsaan. Pemerintah kolonial Hindia Belanda melarang lagu tersebut, namun generasi muda tetap menyanyikannya.

Panitia Kongres Pemuda II

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Muhammad Jamin (Jong Sumatranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Batak Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R.Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III: Senduk ( Jong Celebes)
Pembantu IV: Johanes Leimena (Jong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soebed (Pemuda Kaum Betawi)
Peserta : Ada 71 orang.

Rapat Kongres Pemuda II

Rapat I, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, Ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini mampu memperkuat semangat persatuan di hati generasi muda. Acara dilanjutkan dengan pemaparan Moehammad Yamin tentang arti hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat II, hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, mendiskusikan masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak-anak harus mendapat pendidikan kebangsaan dan harus ada keseimbangan antara pendidikan sekolah dan rumah. Anak-anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada penutupan rapat yang digelar di Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain kepramukaan. Ramelan mengatakan, gerakan kepramukaan tidak bisa dipisahkan dari gerakan nasional. Kepramukaan mengajarkan anak-anak sejak usia dini disiplin dan kemandirian yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Kongres tersebut akhirnya ditutup dengan pengumuman hasil kongres yang dituliskan oleh Muhammad Yamin pada kertas yang diberikan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario memberikan pidato (sebagai perwakilan pramuka) pada sesi terakhir kongres, dan berbisik kepada Soegondo, "Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya punya rumusan yang lebih elegan untuk keputusan kongres)", yang kemudian diparaf Soegondo sebagai persetujuan di atas kertas tersebut. Itu juga diteruskan ke orang lain untuk disetujui. Soegondo terlebih dahulu membacakan sumpahnya dan Yamin kemudian menjelaskannya panjang lebar.

Istilah “Sumpah Pemuda” sendiri tidak muncul dalam putusan Kongres, tetapi diberikan kemudian. Para pemuda yang hadir mengumumkan rumusan itu sebagai sumpah setia. Sumpah tersebut mula-mula dibacakan oleh Soegondo Joyopoespito, kemudian dijelaskan secara menyeluruh oleh Muh. Yamin. Isi Hasil Kongres Pemuda II yaitu Sumpah Pemuda.

Isi Sumpah Pemuda

  • Pertama : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
  • Kedoea  : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan  Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
  • Ketiga  : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahas Persatoen, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Nilai dan Semangat Sumpah Pemuda

  1. Sumpah Pemuda sebagai pilar positif perjuangan bangsa Indonesia.
  2. Sumpah Pemuda merupakan bukti nyata Bhinneka Tunggal Ika. 
  3. Sumpah Pemuda merupakan bukti nyata peran pemuda dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Makna Isi Sumpah Pemuda

  • Sumpah Pemuda terdengar sangat singkat, namun mempunyai makna yang sangat dalam.
  • Makna dari isi Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut.
  • Makna Satu Nusa atau Satu Tanah Air
  • Makna Satu Bangsa
  • Makna Satu Bahasa 

Makna Satu Nusa atau Satu Tanah Air

Nusa artinya pulau atau daratan. Satu nusa artinya kita bersama berada dan hidup dalam satu tanah air yaitu tanah air Indonesia. Tanah air Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke, terdiri atas pulau-pulau besar dan kecil. Sebuah pulau dihubungkan oleh selat dan laut. Keadaan demikian tidak menyurutkan semangat persatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu bangsa Indonesia mempunyai konsep negara kesatuan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Makna Satu Bangsa
Selain kepulauan, Indonesia juga terdiri dari berbagai suku. Satu Bangsa artinya bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku dan kebudayaan. Setiap suku bangsa mempunyai adat istiadat atau kebudayaan yang berbeda-beda.

Makna Satu Bahasa
Satu bahasa artinya masyarakat Indonesia mempunyai satu bahasa yang sama yaitu bahasa Indonesia. Bangsa Indonesia dengan banyaknya adat istiadat, budaya dan bahasa yang berbeda-beda memerlukan suatu kesatuan bahasa yang dapat dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia. Bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa nasional, sebagai bahasa pengantar di sekolah, sebagai bahasa resmi dalam pemerintahan dan dalam komunikasi sehari-hari.

Sikap Positif Terhadap Nilai dan Semangat Sumpah Pemuda

  • Selalu bersyukur dan mendoakan arwah para pahlawan nasional yang telah berjasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia.
  • Memahami bahwa masyarakat Indonesia itu beragam.
  • Menciptakan keharmonisan pada lingkungan sekitar.
  • Generasi muda masa depan bangsa harus membuktikan semangat sumpah pemuda dalam kehidupan saat ini.

Tantangan Multidimensional

Tantangan ideologi berupa infiltrasi ideologi asing, baik moderat maupun radikal.
Tantangan sektor perekonomian dalam menghadapi sistem liberalisme sektor perekonomian. Prinsip persaingan bebas (free fighting liberalism) berlaku dalam sistem ekonomi liberal. Sistem persaingan bebas menyebabkan ketimpangan ekonomi ketika investor menjadi lebih kuat dan yang lemah menjadi semakin lemah atau miskin.
Tantangan di bidang sosial budaya berupa masuknya budaya dan gaya hidup asing yang mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, seperti gaya hidup bebas, konsumtif, dan budaya hedonisme.
Tantangan di bidang politik dan hukum seperti meningkatnya kasus korupsi, narkoba di kalangan generasi muda Indonesia, berbagai pelanggaran HAM, politik uang, kampanye hitam yang mengarah pada fitnah, berbagai konflik horizontal (antar masyarakat) dan lainnya.
Tantangan pertahanan dan keamanan seperti pelanggaran batas negara oleh pesawat udara atau pesawat asing, terorisme dan separatisme.